Work from Bali, Pariwisata Berdenyut Kembali

oleh

SUDAH hampir sebulan Ketut Sudestra kembali disibukkan dengan jadwal antarjemput wisatawan lokal yang berkunjung ke Bali. Sebelumnya, sejak pandemi covid-19 melanda pada 2020 hingga awal tahun ini, Ketut yang akrab disapa Tutde tersebut beralih profesi menjadi agen pemasaran ramuan herbal untuk kecantikan perempuan.

“Saya menjual produk kecantikan bersama istri lewat layanan daring. Lumayan banyak peminat sehingga saya tetap bisa menghidupi keluarga,” kata Tutde kepada Media Indonesia¬† di Ubud, Bali, Jumat (28/5).

Sebagai pengemudi mobil agen perjalanan kini dalam sepekan Tutde dua atau tiga kali menjemput dan mengantar wisatawan dari dan ke bandara. Termasuk mengantarkan mereka ke lokasi-lokasi wisata di Pulau Dewata.

“Sudah setahun lebih saya meninggalkan pekerjaan ini. Meskipun belum normal seperti dua tahun lalu semoga pariwisata Bali menggeliat lagi. Hanya pariwisata yang bisa dijual di Bali. Saya pun mendukung kebijakan¬† work from Bali,” lanjut bapak dua anak ini.

Tutde ingat betul sekitar tiga bulan setelah pandemi merebak, pariwisata Bali langsung terpuruk. Banyak hotel besar maupun kecil tutup dan belasan ribu pegawai terkena PHK.

“Toko suvenir, toko kelontong, agen perjalanan, dan warung-warung makan pun kena imbas. Bapak bisa melihat suasana Kuta sekarang, kalau malam beberapa sudut jalannya sepi dan gelap karena banyak toko atau resto yang bangkrut,” ungkap paruh baya ini.

Beruntung sudah sebulan ini, arus kedatangan tamu-tamu domestik ke Bali mulai ramai. Suasana di bandara tampak sibuk karena penumpang pesawat dari dan menuju Bali datang silih berganti.

“Penumpang menjalani protokol kesehatan ketat. Kalau mereka tidak memiliki surat swab antigen, ya dilarang masuk Bali. Sebaliknya, dari Bali juga nggak bisa terbang ke manapun,” tutur Tutde.

Ke depan, Tutde berharap pariwisata Bali segera pulih seperti kondisi sebelum pandemi sehingga seluruh karyawan yang di-PHK bisa kembali beraktivitas dan mendapat penghasilan.

Untuk itu, Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) komit menggerakan perekonomian Bali yang dinilai berpeluang pulih lebih cepat. Sampai akhir Maret 2021 total restrukturisasi kredit Himbara di Bali mencapai Rp21,35 triliun.

baca juga: Bali

Bila dirinci, BRI telah merestrukturisasi pinjaman senilai Rp15,03 triliun untuk 179,8 ribu debitur UMKM, Bank Mandiri menyetujui restrukturisasi sebesar Rp2,04 triliun kepada 11.837 debitur, Bank BNI tercatat mengakomodasi restrukturisasi sebesar Rp3 triliun kepada 2.361 debitur, dan Bank BTN merestrukturisasi sejumlah Rp1,28 triliun kepada 4.782 debitur yang mayoritas merupakan kredit sektor properti. Kepala Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho amat mendukung perbankan membantu membangkitkan ekonomi Bali melalui restrukturisasi atau penyaluran kredit.

“Kuartal I, kredit sektor akomodasi makan minum tumbuh 0,58%. Ini sinyal perbaikan ekonomi. Kegigihan pelaku pariwisata menjaga citra Bali harus didukung,” tandas Trisno. (N-1)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *