Rektor UGM : 3.000 GeNose C19 Sudah Diproduksi

oleh

REKTOR Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Panut Mulyono, hingga bulan April 2021 ini pihaknya telah memproduksi sebanyak 3.000 unit GeNose C19. Dari jumlah tersebut, kata Panut, sebanyak 2.400 unit telah beredar dan 600 unit tengah menunggu pemasangan terutama di Kemenhub.

“UGM akan terus meningkatkan produktivitas secara massal GeNose C19 dengan menggandeng mitra-mitra UGM karena kebutuhan GeNose C19 yang begitu besar,” jelasnya dilansir dari laman UGM, Sabtu (1/5).

GeNose C19 ialah alat deteksi cepat Covid-19 melalui embusan napas berbasis kecerdasan buatan (AI). Alat buatan UGM ini telah digunakan di berbagai tempat publik seperti stasiun kereta api, bandara, serta rumah sakit untuk skrining Covid-19.

GeNose C19 mampu mendeteksi virus korona dalam waktu 80 detik lewat volatile organic compound (VOC) yang terbentuk melalui hembusan napas ke dalam kantong khusus. Selanjutnya, virus diidentifikasi melalui sensor. Datanya kemudian diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial.

Panut mengatakan UGM terus melakukan inovasi dan menciptakan terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan bangsa, termasuk mengatasi pandemi Covid-19. Berbagai produk inovatif berhasil dikembangkan UGM selama pandemi.

“Alhamdulillah, UGM telah beberapa kali mendapatkan penghargaan di bidang inovasi. Hal tersebut menunjukkan riset-riset yang ada di UGM dapat dihilirkan menjadi produk-produk komersial,” cetusnya.

Panut menyampaikan inovasi di UGM dilakukan dengan dua basis utama. Pertama, inovasi yang dilakukan berdasar hasil-hasil riset para dosen dan mahasiswa (academic driven). Kedua, inovasi berbasis pada kebutuhan-kebutuhan yang ada di masyarakat (community driven).

Saat ini, UGM memiliki lima bidang prioritas inovasi, yakni kesehatan dan farmasi, agroindustri, manufaktur dan rekayasa, teknologi infromasi, energi baru dan terbarukan. Sementara di bidang sosial yaitu heritage, art and culture, dan sustainable management.

Selain inovasi deteksi cepat Covid-19, UGM juga berhasil mengembangkan ventilator untuk pasien Covid-19. Pengembangan ventilator telah melalui uji klinis di lapangan dan saat ini sedang menunggu jadwal paparan Kemenkes untuk selanjutnya menunggu izin edar.

Inovasi lainnya yakni lahir melalui CIMEDs (Center for Medical Innovation and Devices). Sejak awal pandemi, pusat kajian ini telah memproduksi berbagai alat pelindung diri (APD).

Penelitian berbagai bahan imunostimulan juga dilakukan dalam upaya menciptakan produk-produk untuk mendukung imunitas di masa pandemi. Sementara di bidangg sosial, UGM memiliki gerakan Sambatan Jogja atau SONJO. SONJO merupakan gerakan kemanusiaan yang fokus pada upaya membantu masyarakat yang berisiko terdampak Covid-19 di DIY. (H-2)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *