Rebranding Pendidikan Vokasi di Indonesia

oleh

PENATAAN wajah pendidikan vokasi di Indonesia sudah mendesak. Terlebih sejak memisahkan dari induk pendidikan tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan saat ini bernaung di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi).

Itu sebabnya Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto sangat serius menata wajah pendidikan ini. Salah satunya ialah dengan mengumpulkan para pelaku kehumasan di lingkungan satuan kerja (satker)/Badan Layanan Umum (BLU) melakukan pelatihan me-rebranding pendidikan vokasi. Tentunya hal ini dilakukan agar mereka lebih fresh dan mengikuti passion anak muda Indonesia.

Langkah yang patut diapresiasi dengan baik, karena diksi harus memiliki warna sendiri dalam menata pendidikan vokasi di Indonesia. Keinginan Wikan tak lepas dari penegasannya dalam berbagai kesempatan yang ingin pendidikan, lembaga dan sekolah vokasi (SMK, akademi komunitas, politeknik, dan lembaga kursus lainnya), memiliki warna dan cara tersendiri untuk menata wajah vokasi. Sehingga bisa mengikuti selera dan gairah anak-anak muda Indonesia. “Kami mau me-rebranding wajah pendidikan dan sekolah vokasi yang lebih fresh agar diterima oleh masyarakat utamanya anak-anak muda kita,” ucap Wikan, Sabtu (27/3).

Tentu niat itu tak mudah dan secepat yang diinginkan, apalagi melihat segmentasi peminat vokasi yang dominan memilih pendidikan tinggi dan menomorduakan pendidikan ini. Anehnya, munculnya pesaing baru dari perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) membuka pendidikan vokasi sejenis, yang justru pernah menjadi ibu kandung dan melahirkan politeknik di seluruh Indonesia. Kini, mereka bebas membuka pendidikan vokasi dan alhasil menjadi pesaing baru meraih simpati masyarakat.

 

Kegiatan pelatihan me-rebranding yang dipusatkan di kantor Media Indonesia, Jakarta itu menjadi salah satu kunci perkuat sumber daya kehumasan pendidikan dan sekolah vokasi di Indonesia. Peserta kehumasan yang mewakili berbagai politeknik di berbagai daerah, diajak untuk melatih diri dalam mewujudkan posisinya sebagai komunikator. Pelatihan kehumasan itu dibuat dalam dua gelombang sejak 19-22 April dan 26-29 April 2021.

Ini merupakan manifestasi dan mandatori dirjen yang patut diapresiasi oleh sekolah kejuruan, lembaga kursus, PTN-AKN Satker/BLU Diksi seluruh Indonesia. “Saya senang ikut kegiatan ini untuk mewujudkan wajah baru pendidikan vokasi,” tutur Henni, salah seorang peserta Diklat dari Poltek Ambon.

Kemendikbud ingin melihat pemahaman masyarakat bahwa pendidikan vokasi bukan pilihan kedua dalam dunia pendidikan. Dalam bahasa Wikan, ia ingin mengajak anak muda untuk memilih sekolah atau kampus yang sesuai seleranya.

“Kita ingin mengajak anak-anak muda Indonesia dalam memilih tempat kuliah harus cocok dengan selera, gairah, dan passion. Jangan sampai hanya mengejar ijazah dan gelar tapi tak cocok dengan karakternya,” tukasnya. 

Setelah kegiatan pelatihan ini, tentu ilmu yang didapatkan dapat diwujudkan dalam bentuk ide, aksi, dan karya. Sehingga pelaku humas dapat membantu memperkenalkan pendidikan vokasi di daerah masing-masing. (O-2)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *