Positvity Rate di Sumsel Capai 30 Persen

oleh

KASUS Covid-19 di Sumatra Selatan masih mencatat adanya tren peningkatan. 

Saat ini saja, jumlah kasus Covid-19 di Sumsel sudah mencapai 20.595 kasus, di mana angka kesembuhan tercatat 18.068 dan angka kematian sudah mencapai 1.003 orang.

Baca juga: Ganjar Kunjungi Buruh dan Bagi Sembako di Hari Buruh

Sayangnya, meski di Sumsel sudah dilakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro, peningkatan kasus masih terjadi. Bahkan, kalau sebelumnya di Sumsel tidak ada zona merah, maka kini di Sumsel sudah ada dua daerah yang masuk zona merah yaitu Palembang dan Ogan Komering Ulu Timur.

Ahli Epidemiologi dari Universitas Sriwijaya, Iche Andriani Liberty, terkait zonasi yang memetakan pusat, berdasarkan indikator-indikator tertentu dan ketika skornya rendah maka zona merah. 

“Kita tahu kalau penyebaran Covid-19 ini belum selesai. Di Sumsel memang kasusnya meningkat dan kematian juga meningkat, karena untuk positivity rate di Sumsel sendiri sudah menyentuh 30%,” kata Iche.

Diakuinya, untuk kasus kasus aktif per tanggal 26 April di angka 6,7 persen, ini meningkat dari sebelumnya pada 19 April sebesar 6 persen.

“Memang tidak bisa dipungkiri mobilitas masyarakat semakin meningkat, apalagi mulai masuk isu mudik. Mobilitas ini trennya meningkat ke pusat-pusat perbelanjaan dan tempat makanan,” ungkapnya.

Menurutnya, tingginya mobilitas ini dikhawatirkan abai dengan protokol kesehatan. 

“Padahal Sumsel diberlakukan PPKM, yang mendorong dari unit terkecil supaya 3T optimal. Harusnya surveillance dijalankan, supaya yang kontak erat di tracing. Bila tracing dan testing bagus harusnya itu bisa menyumbangkan testing yang tinggi dan positivity rate akan turun. Tapi ini malah kecenderungannya naik,” ujarnya.

Baca juga: Mantan Komandan KRI Nanggala-402 Iwa Kartiwa Terbaring Sakit

Untuk lebaran, kalau dilihat dari tren tahun lalu diyakini bakal terjadi juga peningkatan kasus. Berkaca pada tahun lalu yang masyarakat masih lebih waspada, apalagi ini sudah lebih dari satu tahun terlebih regulasi pemerintah pusat dan daerah yang masih membingungkan, tentunya akan berdampak juga pada peningkatan kasus.

“Namun yang kita khawatir bukan hanya penambahan kasusnya saja, tapi tingkat kematian dan yang dirawat di rumah sakit meningkat. Keterisian kamar semakin meningkat, maka ini sangat mengkhawatirkan. Jangan sampai terjadi over capacity. Jika memang diperlukan untuk membuka kembali rumah sehat, itu solusi karena ancaman itu ada,” pungkasnya. (DW) 

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *