Persi: Rumah Sakit Tidak Main-main dengan Limbah Medis

oleh

Terkait adanya kasus penyalahgunaan limbah medis, Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mengimbau pengawasan pengelolaan limbah medis di Rumah Sakit harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan.

“Persi tentu menghimbau agar anggotanya tidak main-main soal limbah medis, semuanya harus clear, neraca limbahnya clear,” kata Ketua Kompartemen Jaminan Kesehatan Persi, dr. Daniel Budi Wibowo kepada Media Indonesia, Minggu (2/5).

Dirinya juga mengingatkan pengelolaan limbah medis atau pihak ketiga harus mengantongi legalitas perusahaan tersebut. Begitu juga memastikan logbook untuk setiap sampah medis yang dititipkan pihak ketiga untuk dimusnahkan.

Baca juga: Pembukaan PTM di Jakarta Tergantung Perkembangan Kasus Covid-19

“Pihak ke 3 sebagai rekanan, juga harus jelas legalitasnya. Selama ini ada manifest, berita acara pengambilan dan pemusnahan yang diberikan oleh pihak ke 3, sebagai transporter dan pengolah limbah medis padat,” sebutnya.

Sebelumnya, adapun penggunaan limbah medis berupa rapid test antigen bekas oleh oknum-oknum pegawai lab diperuntukkan bagi para calon penumpang di Bandara Kualanamu.

Berdasarkan penyelidikan, untuk sementara diketahui juga bahwa pihak yang menyuruh melakukan pendaurulangan dan penggunaan alat tersebut ialah PM, Bussiness Manager Kimia Farma Diagnostika di Medan

Yang lebih mencengangkan, setidaknya 37.500 orang menjalani rapid test antigen di laboratorium tersebut. Angka itu diperoleh dari temuan petugas bahwa setiap hari terdapat sekitar 250 calon penumpang pesawat yang memeriksakan diri di lab itu.

Bila jumlah itu dikalikan dengan jumlah hari selama lima bulan, terdapat setidaknya 37.500 orang yang sudah menjalani rapid test antigen di lab tersebut.

Dari sisi internal perusahaan, para oknum juga melakukan manipulasi laporan jumlah orang yang diperiksa.

Dalam laporannya, mereka mencantumkan rata-rata jumlah yang diperiksa sebanyak 100 orang. Padahal pada kenyataannya, rata-rata mencapai 250 orang.

Sementara itu, Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan, dalam sehari, 158,5 ton limbah medis Covid- 19 dihasilkan dari sejumlah fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) di Indonesia.

Sebagian besar merupakan APD sekali pakai yang digunakan oleh petugas kesehatan, seperti masker, sarung tangan, celemek pelindung, pelindung wajah, kacamata pengaman, wadah pembersih, sepatu plastik, dan baju hazard berbahan zat polimer seperti polipropilen.

Produk-produk plastik ini dapat dikategorikan sebagai makroplastik (berukuran 5 mm-2,5 cm) dan mesoplastik (berukuran lebih dari 2,5 cm), yang dapat ‘meracuni ‘ lingkungan akibat pengelolaan limbah yang buruk atau pembuangan yang tidak tepat. (H-3)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *