Perjalanan berliku UEFA mewujudkan Euro 2020

oleh

Jakarta (ANTARA) – Dua hari lagi Euro 2020 kickoff di Roma ketika Italia ditantang Turki dalam pertandingan Grup A turnamen besar pertama yang diadakan pada era pandemi.

Namun menggelar turnamen di sebelas negara seperti Euro 2020 sungguh sulit plus kian pelik setelah pandemi menghajar dunia untuk memaksa turnamen ini ditunda ke tahun ini.

Saking peliknya Presiden Badan Sepak Bola Eropa UEFA Aleksander Ceferin mengaku tak mau dua kali menggelar turnamen berformat seperti ini, lebih karena kompleksitas masalah yang dihadapi saat merancangnya.

Menggelar 51 pertandingan di 11 negara itu sama artinya dengan mencari 11 kota dan 11 stadion yang layak untuk pertandingan-pertandingan Piala Eropa.

Baca juga: Mengenal 11 kota dan stadion tuan rumah Piala Eropa 2020

Itu juga berkaitan dengan membentuk tim pengelola setiap venue, mencari penginapan untuk semua orang yang akan mengikutinya, mengharuskan panitia memetakan yurisdiksi hukum dan kendala bahasa, rezim pajak dan politik, selain mempertimbangkan nilai tukar dan aturan visa. Dan pandemi membuat segalanya kian kompleks.

Untuk pertama kali dalam 61 tahun sejak turnamen ini digelar, Piala Eropa, bintang-bintang lapangan hijau akan saling berhadapan disaksikan oleh segelintir penonton di berbagai kota yang saling berjauhan, dari Sevilla dan London di ujung barat Eropa sampai Baku di Azerbaijan di ujung timur yang secara geografis lebih Asia ketimbang Eropa. Azerbaijan juga satu-satunya tuan rumah yang bukan peserta Euro 2020.

Turnamen ini akan dimainkan dengan berpatokan pada jadwal yang sudah memastikan peserta-peserta Euro memainkan laga kandangnya, sudah memperhitungkan kemungkinan adanya pembatasan perjalanan terkait pandemi yang bisa mengganggu jadwal, dan sudah mengantisipasi kemungkinan adanya masalah akibat status Inggris yang sudah keluar dari Uni Eropa.

Ide menyelenggarakan Piala Eropa di berbagai negara dicetuskan oleh Michel Platini yang digantikan Ceferin, pada 2012 setelah Turki ogah memilih antara menjadi calon tuan rumah Euro 2020 dan calon tuan rumah Olimpiade 2020.

Platini beranggapan Euro yang adakan di berbagai negara di Eropa bakal membuat kegembiraan dalam merayakan turnamen ini dirasakan seluruh Eropa. Tapi ini juga rencana cadangan seandainya Turki ngotot ingin menjadi tuan rumah Euro sekaligus Olimpiade. Dan Turki tak mau memilih. Negeri ini kalah dari Jepang dalam bidding tuan rumah Olimpiade 2020.

Baca juga: Platini condong kompetisi Euro 2020 multi-kota

Baca juga: 32 negara tertarik tuanrumahi Euro 2020

Pada 2015 Platini tersingkir dari jabatan bos UEFA karena skandal korupsi, namun idenya tetap hidup. Ceferin yang terpilih sebagai presiden UEFA pada 2016, memutuskan merealisasikan ide Platini itu.

Sempat terganggu setelah pada 2017 Brussels tercoret dari daftar kota tuan rumah karena stadionnya tidak akan siap pada waktunya, sampai Maret 2020 hampir semuanya sudah siap.

Selanjutnya Pandemi …

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *