Pentingnya Selalu Mengukur Tekanan Darah termasuk saat Puasa

oleh

PENYAKIT darah tinggi atau dikenal dengan hipertensi merupakan salah satu ‘pembunuh’ besar bagi banyak orang di dunia. Hipertensi bisa dikatakan sebagai silent killer karena sering dianggap penyakit biasa.

Oleh sebab itu, banyak orang yang dengan cara instan hanya mengandalkan obat penghilang rasa sakit dan selanjutnya mengabaikan keluhan dari hipertensi. Padahal, penyakit ini bisa semakin berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Dan bahkan, ia bisa menyebabkan strooke dan penyakit jantung.

Menurut data Survei Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, hampir sepertiga jumlah penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Jumlahnya 63 juta jiwa atau sekitar 34,1% dari total penduduk Indonesia. Angka ini naik sebesar 25,8% dibandingkan kasus pada 2015. Jadi, jangan anggap remeh penyakit ini.

Karena itu, Director PT OMRON healthcare Indonesia, Tomoko Watanabe, menekankan pentingnya mengukur tekanan darah secara teratur. Dengan demikian, setiap orang bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai risiko penyakit jantung dan stroke, dampak dari hipertensi. Mengapa penting dilakukan secara rutin? Hal ini karena sifat tekanan darah manusia yang selalu berubah, tergantung dari aktivitas yang dilakukan oleh orang tersebut.

“Tekanan darah manusia harus berada di angka aman dalam setiap pengukiuran. Bagi usia risiko tinggi yaitu 20-85 tahun, angka normal tekanan darah harus berada di 120/80 mmHg atau di bawahnya. Bahkan, menurut pedoman ESC/ESH 2018, definisi tekanan darah tinggi ada di atas 140/90 mmHg, jika mengukur sendiri di rumah,” ujar Watanabe.

Watanabe bahkan menginstruksikan agar masyarakat segera mendapatkan perawatan medis jika hasil pengukuran tekanan darah mencapai angka 180/110 mmHg atau lebih tinggi. Pengukuran dan pemantauan tekanan darah ini sudah bisa dilakukan mulai dari usia 3 tahun.

Saat puasa

Pengukuran tekanan darah memang harus dilakukan secara rutin setiap saat. Namun, apakah dengan menjalankan ibadah puasa ketika aktivitas orang banyak yang berkurang, turut memengaruhi tekanan darah? Menurut Watanabe, tidak ada bedanya. Hampir tidak ada perbedaan signifikan pada tekanan darah sistolik dan diastolik, antara bulan puasa dan di luar bulan puasa.

Sistolik mengacu pada tekanan darah saat jantung berdetak saat memompa darah. Diastolik ialah saat jantung beristirahat di antara detak jantung. Tidak adanya perbedaan signifikan ini mengacu hasil penelitian dalam Journal of Hypertension 2016: The Effect of Fasting During Ramadan on Blood Pressure in Patients with Controlled and Mild Hypertension. Riset tersebut menyimpulkan bahwa berpuasa selama Ramadan dapat ditoleransi dengan baik pada pasien dengan hipertensi terkontrol dan ringan, yang terus melanjutkan pengobatan dan tidak ada peningkatan tekanan darah signifikan pada periode kritis selama puasa.

Bahkan, waktu pengukuran tekanan darah pun tidak berbeda antara bulan puasa dan bulan-bulan lain. Pasien hipertensi, terutama yang menjalani pengobatan, perlu memeriksa tekanan darahnya di pagi hari sekitar setengah jam setelah bangun tidur, setelah buang air kecil, dan sebelum makan atau minum obat apa pun. Yang kedua pada sore hari sebelum tidur.

“Setiap kali mengukur, lakukan dua atau tiga pembacaan untuk memastikan hasil akurat. Akan lebih baik jika memeriksakan tekanan darah pada waktu yang sama setiap hari,” kata Dr. Yuda Trana, Ahli Saraf dan Anggota Dewan Penasihat InaSH.

Dr. Yuda menambahkan, puasa memang dapat membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol, mengontrol diabetes, serta menurunkan berat badan, empat faktor utama risiko penyakit jantung. Ini karena ketika asupan makanan dikurangi, tubuh membuang lebih banyak racun dan zat yang tidak perlu. Tapi, puasa bisa menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Hal ini dapat membuat jantung tidak stabil dan rentan terhadap aritmia, yakni detak jantung tidak teratur atau tidak normal.

Puasa juga bisa meningkatkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Tekanan darah cenderung melonjak pada waktu buka puasa ketika mereka makan makanan manis dan asin. Oleh karena itu, selalu penting memantau tekanan darah dengan cermat selama puasa, karena tekanan darah tinggi biasanya tidak memiliki gejala dan tidak dapat dideteksi tanpa dilakukan pengukuran.

Dr. Yuda juga memberikan beberapa tips untuk mengurangi tekanan darah bagi masyarakat Indonesia, yaitu:

1. Kurangi konsumsi garam, terutama bagi orang dengan tekanan darah yang tinggi. Dalam hal ini, garam bukan hanya yang ditambahkan ke dalam makanan, tetapi juga garam dari makanan olahan.

2. Kurangi konsumsi daging dan jeroan. Bersama dengan makanan kaleng, junk food, hingga gorengan, makanan-makanan seperti ini sebaiknya dihindari.

3. Konsumsi lebih banyak makanan berserat dan rendah lemak. Makanan ini bisa ditemukan pada sayur mayur dan buah.

4. Beberapa dokter menyarankan tidak minum kopi dan teh secara berlebihan, apalagi di waktu berbuka puasa. Hal ini bisa membawa dampak buruk bagi penderita hipertensi.

5. Lakukan rutinitas olahraga setidaknya 30 menit setiap hari untuk menjaga tekanan darah tinggi.

Pengecekan mandiri

Teknologi telah berperan banyak orang dalam berbagai hal, termasuk di dunia kesehatan. Mengukur tekanan darah yang dahulu hanya bisa dilakukan di klinik-klinik kesehatan, kini bisa dilakukan secara mandiri dari rumah. Dengan bentuk yang kompak, ergonomis, dan ringan, perangkat pengukur tekanan darah ini bisa digunakan dengan nyaman setiap hari. OMRON yang telah lama bermain di industri alat-alat kesehatan pun telah menyediakan perangkat pengukur tekanan darah, seperti pada tipe HEM-7156, HEM-7361T, and HEM-7600T.

Perangkat monitor tekanan darah tersebut sudah tersedia secara luas. Watanabe merekomendasikan menggunakan model tekanan darah apa pun dengan manset IntelliWrap. Ini merupakan manset yang dirancang khusus untuk memastikan keakuratan pengukuran, terlepas dari cara meletakkan manset di lengan, sehingga sempurna untuk mengukur tekanan darah di rumah oleh pengguna yang tidak terlatih.

 

Menurut Watanabe, ada keunggulan yang bisa didapat dari pengukur tekanan darah mandiri dari OMRON. Sama dengan yang digunakan di klinik kesehatan atau rumah sakit, perangkat ini dapat mengukur tekanan darah dengan keakuratan tinggi. Selain itu, sangat mudah digunakan.

Pandemi covid-19 membuat banyak orang untuk melakukan berbagai hal dari rumah, termasuk pemeriksaan kesehatan. Tidak heran, “Terjadi peningkatan penjualan produk kami karena naiknya kesadaran akan pengelolaan perawatan kesehatan preventif di tengah masyarakat pascacovid-19. Kami melihat tren ini akan terus berlanjut setelah pandemi,” kata Watanabe.

Pihaknya juga menjalankan kampanye Lebaran khusus yang berfokus pada promosi kebugaran dan kesehatan selama bulan puasa melalui penawaran produk menarik pada monitor BP digital serta nebulizer. Pihaknya juga memanfaatkan media digital untuk meningkatkan jangkauan pesan dan kampanye ini. Ia merekomendasikan untuk mengikuti Facebook dan Instagram perusahaannya untuk mendapatkan pembaruan tentang promosi terbaru serta tip dan wawasan kesehatan yang bermanfaat. (RO/OL-14)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *