Pemprov Sulsel Klaim Tekan Kasus Penularan Covid-19

oleh

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengklaim pihaknya mampu menekan penyebaran virus korona atau covid-19. Terbukti tidak adanya lagi zona merah penyebaran covid-19 di 24 kabupaten/kota yang ada.

Meski demikian, Pemprov Sulsel juga, masih terus melakukan upaya mengendalikan kasus covid-19 untuk memutus mata rantai penularan virus, caranya dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan.

Kebijakan tersebut pun salah satunya, yaitu pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro yang menjadi perintah pusat, yang sebelumnya sudah dimulai dengan pelarangan kegitan yang menyebabkan kerumunan serta pembatasan aktivitas hingga jam tertentu.

Sayangnya, pengamat kebijakan publik dari Universitas Hasanuddin, Adnan Nasution mengatakan, peraturan yang dibuat Pemprov Sulsel terkait pengendalian Covid-19 belum efektif dan maksimal, sehingga butuh lebih banyak inovasi.

Menurutnya, saat ini, masyarakat sudah banyak yang menganggap bahwa virus korona tidak ada lagi, sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

“Lihat saja kebijakan pelarangan mudik saat lebaran Idul Fitri lalu. Kebijakan seperti ini tidak efektif dan hanya sekadar formalitas. Padahal, masih ada cara lain untuk menekan penularan Covid-19 tanpa perlu membatasi,” seru Adnan.

“Caranya dengan tetap menggiatkan tes swab antigen. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa berpergian secara aman. Intinya pemerintah masih harus berupaya keras dan menemukan inovasi kebijakan,” sambung Adnan.

Dia pun menyebutkan, jika pemerintah perlu menciptakan terobosan dalam membuat kebijakan. Seperti ada pemanfaatan teknologi yang menyebabkan orang tidak bisa berdekatan.

“Teknologi itu sebaiknya diberikan ke masyarakat. Mungkin semacam alarm yang dibawa atau digunakan oleh orang, dipasang di hapenya. Jadi ketika ada yang berdekatan, tidak jaga jarak, alarm akan berbunyi,” Adnan menyerukan.

Dia juga menyebut, terobosan seperti ini dirasa perlu sebab masyarakat kadang lupa atau abai terhadap protokol kesehatan, utamanya menjaga jarak.

“Lihat tempat-tempat seperti warung-warung kopi, yang paling rawan selama ini karena ketika dia dalam di warkop, walaupun dia tidak minum kopi, itu memang hampir tidak pernah menggunakan masker pada saat di dalam,” Adnan mencontohkan. (LN/OL-09)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *