Ngada Belajar Manajemen Pemasaran Tenun Ikat di Sikka

oleh

KEUNGGULAN pemasaran tenun ikat di Kabupaten Sikka, NTT menyebabkan Pemkab Ngada pun tertarik untuk belajar teknik manajemen pemasaran tenun ikat.

Hal ini dilakukan mengingat tenun ikat asal Sikka sudah bisa menembus pasar dunia. Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada, Laurensius Ngiso Godja mengatakan, pihaknya bersama dengan organisasi Masyarakat Perlindungan

Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Ngada turun ke Kabupaten Sikka untuk belajar sistem pengelolaan manajemen pemasaran tenun ikat yang ada di kelompok-kelompok tenun ikat binaan Pemkab Sikka.

Selain itu, mereka juga belajar tentang sistem manajemen organisasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kabupaten Sikka yang sudah berjalan bagus.

“Tujuan kita ke Sikka hanya mau belajar tentang bagaimana sistem kerja di tingkat manajemen kelompok-kelompok tenun ikat, manajemen MPIG dan bagaimana pemasaran tenun ikat dilakukan oleh teman-teman di Sikka hingga bisa tembus di pasar nasional dan internasional. Ini yang kita mau sharing dan belajar di Sikka,” lanjut Laurensius saat meninjau Sentra tenun ikat Jata Kapa

milik Pemkab Sikka, Selasa (4/5).

Laurensius menuturkan, ada 12 motif tenun ikat warisan leluhur di Ngada yang saat ini mau diusulkan agar mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) hingga mendapatkan nomor Sertifikat Indikasi Geografis. Karena itu, pihaknya datang belajar di Sikka mengingat tenun ikat di Sikka adalah yang pertama di Indonesia memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis.

baca juga: Tenun Ikat

Banyak sekali motif tenun ikat khas Ngada yang merupakan warisan turun temurun nenek moyang dan mulai ditiru di berbagai tempat dengan teknologi mesin tenun.

“Banyak orang gunakan teknologi mesin tiru motif tenun ikat khas Ngada. Ini artinya sangat memengaruhi semangat penenun kelompok-kelompok tenun ikat di Ngada. Jadi kita perlu patenkan motif tenun ikat khas Ngada ini. Seperti yang dilakukan di Sikka, motif mereka sudah memiliki hak paten,” sebut dia

Apabila motif tenun ikat khas Ngada dipatenkan maka bisa mendorong desa-desa yang dulunya pernah menjadi desa penenun akan dihidupkan kembali untuk meningkatkan ekonomi para penenun.

“Pasar tenun ikat di Ngada masih lokal. Beda di Sikka yang sudah sampai ke luar negeri. Sehingga kita patenkan tenun ikat kita hingga dapatkan Sertifikat Indikasi Geografis. Nantinya tenun ikat Ngada bisa dipasarkan ke luar daerah atau ke luar negeri,” pungkasnya. (OL-3)

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *