Menkes Minta Lelang Pengadaan Alkes Utamakan Produk Dalam Negeri

oleh

PEMERINTAH bakal mendorong pemanfaatan produksi alat kesehatan (alkes) dalam negeri. Salah satunya mengutamakan produksi dalam negeri pada mekanisme lelang pengadaan alkes.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi salah satu perusahaan alat kesehatan yang berlokasi di Kawasan Industri MM 2100, Cikarang, Jawa Barat. Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel ikut dalam kegiatan tersebut.

“Mekanisme lelang pengadaan alkes oleh instansi pemerintah harus lebih memberi ruang yang lebih luas bagi pelaku industri alkes nasional,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Jumat (11/6).

Baca juga: Moeldoko Disebut Pelopori Distribusi Ivermectin

Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menyampaikan produk dalam negeri harus diutamakan. Apalagi, selisih harga tidak terlalu jauh dengan barang alkes impor.

Dia mengakui harga produk alkes dalam negeri masih kalah dengan produk luar negeri. Hal itu membuat market share produk alkes dalam negeri masih di bawah 10%.

Pemerintah bakal berupaya meningkatkan daya saing produk alkes dalam negeri. Salah satunya dengan memberikan kemudahan kepada produk lokal.

“Namun, dalam target waktu tertentu misalnya 3 tahun. Setelah itu, produk lokal harus mampu bersaing,” ungkap dia.

Peningkatan daya saing itu bakal dilakukan karena peluang pasar alat kesehatan masih sangat terbuka, terutama dalam negeri. Seperti alat ukur gula darah, ventilator, dan penyimpanan vaksin.

“Suplai untuk produk-produk seperti ini akan terus kita besarkan,” ujar dia.

Selain itu, Budi mengapresiasi produksi PHC Indonesia. Sebab, produksi yang dilakukan berbasis teknologi Jepang.

“Tidak heran, sebagian besar produknya berhasil dipasarkan ke berbagai negara,” kata dia.

PHC Indonesia memproduksi berbagai alkes, di antaranya alat penanganan covid-19. Yakni, seperti ventilator tipe Continuous Positive Airways Pressure (CPAP) Vent-I Esential 3.5, alat penyimpanan vaksin berupa peralatan biomedical freezer (pembeku biomedis) dan pharmaceutical refrigerator (pendingin farmasi).

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel mengapresiasi langkah strategis yang akan dilakukan Menkes Budi.

Menurut dia, pemerintah perlu memberi perhatian dan stimulus yang lebih besar bagi pengembangan industri alkes nasional.

“Karena sampai saat ini ketergantungan terhadap impor sangat besar, di atas 90%,” kata Gobel.

Politikus Partai NasDem itu menyebut langkah ini bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap inpor. Namun, juga dapat menggerak ekonomi dan membuka lapangan kerja.

“Potensi industri alat kesehatan nasional sesungguhnya sangat besar, untuk itu perlu digarap secara lebih serius,” ungkap dia.

Dia memaklumi jika industri alkes masuk kategori mahal. Sebab, berbasis riset sehingga pengembangan membutuhkan biaya besar.

“Karena itu perlu dukungan penuh dari pemerintah,” pungkasnya. (OL-1)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *