Mengejar Tiket, Memberi Gelar

oleh

BUKAN rahasia umum bahwa Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund merupakan musuh bebuyutan. Persis seperti Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol, begitulah dua klub Jerman ini saling bersaing. Pertemuan di antara mereka pun dijuluki sebagai Der Klassiker.

        

Mereka saling berusaha untuk mengalahkan yang lain, berupaya untuk mencegah jangan sampai pesaingnya bisa mencapai tangga juara. Sebuah aib besar apabila mereka melihat pesaingnya mengangkat piala dan merayakan kemenangan.

        

Sabtu (1/5) malam ini, Dortmund dihadapkan kepada sebuah dilema besar. Pertemuannya melawan Red Bull Leipzig di Westfalenstadion sangat menentukan langkah mereka untuk bisa menembus empat besar Bundesliga dan mengantungi tiket untuk tampil di Liga Champions musim mendatang. Namun kemenangan malam ini memberikan hadiah juara kepada Bayern Muenchen untuk kesembilankalinya secara berturut-turut memenangi Bundesliga.

         

Dengan keunggulan tujuh poin dari Leipzig, memang hanya kecelakaan besar yang bisa membuyarkan FC Hollywood untuk mempertahankan gelarnya. Hanya tiga kekalahan beruntun yang dialami dalam tiga pertandingan tersisa—dan sebaliknya tidak kemenangan beruntun yang diraih Leipzig—yang bisa menggagalkan langkah Bayern Muenchen ke tangga juara.

        

Setelah pesta yang tertunda pekan lalu di mana mereka dipaksa menelan pil pahit 1-2 oleh Mainz, Bayern Muenchen sendiri baru akan turun bertanding Minggu malam. Mereka akan menjamu Borussia Moenchengladbach di stadion kebanggaan mereka, Allianz.

         

Apabila malam ini Dortmund mampu mengandaskan Leipzig, maka pertandingan di Allianz besok hanya menjadi pelengkap pesta kemenangan Der Bavarian. Tetapi apabila tim Kuning-Hitam harus menelan kekalahan, Manuel Neuer dan kawan-kawan harus bekerja keras untuk tidak lagi gagal merayakan pesta kemenangan mereka.

Berjuang keras 

Dengan tinggal tiga pertandingan yang tersisa, Dortmund harus berjuang keras untuk mengamankan tiket mereka ke Liga Champions. Mereka harus bersaing dengan Wolfsburg dan Eintracht Frankfurt yang sama-sama tidak mau kehilangan angka agar bisa tampil di strata tertinggi Liga Eropa musim mendatang.

        

Kemenangan 2-0 yang diraih atas Wolfsburg pekan lalu menjadi penentu bagi Dortmund untuk menghidupkan peluang mereka lolos ke Liga Champions. Itu pulalah yang menjadi keyakinan Marco Reus dan kawan-kawan untuk bisa mengendalikan Leipzig malam ini.

        

Kunci utama bagi Dortmund untuk merebut poin penuh berada di kaki Erling Braut Haaland. Dengan 38 gol yang sudah diciptakannya, penyerang asal Norwegia ini bersaing ketat dengan Robert Lewandowski sebagai pencetak gol terbanyak. Haaland terobsesi untuk merebut sepatu emas dari Lewandowski karena akan menaikkan harga jual kepada Bayern yang mengincarnya.

         

Kecepatan Haaland memang tidak mudah untuk bisa dikendalikan. Ibrahim Konate atau Dayot Upamecano benar-benar diuji kemampuannya. Terutama dalam mengantisipasi bola daerah yang disodorkan Giovanni Reyna, Jadon Sancho, ataupun Mahmoud Dahoud karena Haaland memiliki sprint yang kuat.

         

Absennya Jude Bellingham yang terkena kartu merah pekan lalu memberi kesempatan kepada Thomas Delaney untuk menggalang lapangan tengah.  Pelatih Edin Terzic mengharapkan kehadiran Delaney untuk membantu duet Emre Can dan Manuel Akanji mengawal jantung pertahanan.

         

Leipzig sendiri kekuatannya ada di sayap. Christopher Nkunku dan Amadou Haidara merupakan dua penyerang sayap yang lincah dan pandai memanfaatkan peluang. Menarik untuk melihat bagaimana  dua penyerang muda Leipzig akan menghadapi dua bek Dormund, Raphael Guerreiro di kiri dan Lukasz Piszczek di kanan.

Apabila pelatih Julian Nagelsmann memainkan pola 4-3-3, ia biasa menempatkan Emil Frosbreg atau Yussuf Poulsen sebagai ujung tombak. Leipzig akan semakin berbahaya apabila kapten kesebelasan Marcel Sabitzer bisa tampil malam ini.

          

Nagelsmann yang diincar untuk menjadi pelatih Bayern Muenchen menggantikan Dieter-Hans Flick pada musim mendatang, tentu ingin meninggalkan prestasi yang pantas untuk dikenang oleh pecinta Leipzig. Pertandingan malam ini bisa menjadi sesuatu yang pantas untuk dikenang karena bisa menggeser Dortmund sebagai pesaing paling berat bagi Bayern Muenchen.

Asa Liverpool 

Pertandingan tidak kalah menarik terjadi di Liga Premier. Seperti halnya Bayern Muenchen, di Liga Premier Manchester City tidak akan teradang untuk mengangkat piala. Yang pantas untuk ditunggu adalah nasib Liverpool untuk bisa lolos atau tidak ke Liga Champions musim mendatang.

        

Hanya satu tempat yang kemungkinan masih tersisa setelah Citizens, Manchester United, dan Leicester City akan mendapatkan tiket ke Liga Champions. Liverpool harus bersaing ketat dengan Chelsea dan West Ham untuk mendapatkan satu tiket terakhir.

         

Anak asuhan Juergen Klopp harus menjalani perjuangan yang berat karena besok malam harus bertandang ke Old Trafford untuk bertemu salah satu musuh besar mereka, Manchester United. Misi mereka hanya satu yakni meraih angka penuh untuk mengamankan jalan ke Liga Champions.

          

Dengan Virgil van Dijk dan Joe Gomez yang masih dibalut cedera, Klopp belum bisa menata barisan belakang timnya. Sepanjang musim ini Tim Merah harus 13 kali kebobolan dalam 15 menit pertandingan terakhir. Padahal sebelumnya, Liverpool justru selalu menggila di waktu-waktu yang paling menentukan itu. Ingat ketika mereka menggalahkan Barcelona 4-0 di Liga Champions 2016.

          

Harapan Klopp sekarang ini tinggal tergantung kepada Fabinho dan Ozan Kabak sebagai palang pintu utama. Meski dua bek sayap masih ditempati Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson, tetapi kualitas center-back masih di bawah duet Van Dijk dan Gomez.

         

Persoalan yang juga harus dipecahkan Klopp adalah mengoptimalkan peran Alexander-Arnold dan Andy Robertson sebagai pembuka serangan. Tantangannya, Pelatih Setan Merah Ole Gunnar Solskjaer sudah paham untuk mematikan gerakan dua bek sayap Liverpool ini.

         

Tugas Thiago Alcantara untuk bisa mengoptimalkan daya gempur Liverpool. Terutama untuk ikut mengalirkan bola bagi Mohamed Salah dan Sadio Mane yang bermain dari sayap agar bisa mengalirkan umpan-umpan silang maupun wallpass ke pertahanan Setan Merah.

         

Meski belum berjalan optimal, Klopp memilih untuk meninggalkan pola 4-3-3 dan lebih bermain dengan 4-4-2. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan daya gempur dengan menduetkan Roberto Firmino dan Diogo Jota sebagai tombak kembar di depan.

         

Manchester United sendiri turun ke lapangan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Kemenangan 6-2 atas AS Roma di ajang Liga Eropa membawa Solskjaer satu langkah lagi tampil di pertandingan puncak dan mempersembahkan piala pertamanya untuk Setan Merah.

         

Dengan Edinson Cavani sebagai ujung tombak dan Paul Pogba bermain dari sayap, daya gempur Manchester United semakin mantap. Bruno Fernandes seperti biasa menjadi second striker yang mematikan, sementara Marcus Rashford atau Mason Greenwood mengiris pertahanan lawan dari sayap kanan.

         

Solskjaer sepertinya sudah menemukan tim utama yang bisa ia andalkan. Target Solskjaer sekarang ini adalah bagaimana bisa sedekat mungkin poin yang bisa dikumpulkan sebagai modal untuk menghadapi musim kompetisi mendatang.

         

Hal Inilah yang akan membuat Liverpool perlu berhati-hati dan bekerja semakin keras. Kekalahan besok malam bukan hanya mencoreng nama baik mereka, tetapi menjauhkan diri mimpi untuk bisa tampil di Liga Champions musim mendatang.(*)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *