Mendorong Mutu Kualitas Hidup Lansia dan Penderita Alzheimer

oleh

INTERAKSI aktif dan positif antar anggota keluarga merupakan bagian dari pencegahan atau perlambatan Alzheimer dan demensia lain.

Dukungan seluruh keluarga menjadi lebih diperlukan ketika anggota keluarga lanjut usia (lansia) mengalami demensia. Namun, dukungan bagi lansia tentu saja tidak terbatas diberikan hanya oleh anggota keluarga terdekat tetapi juga oleh semua anggota masyarakat.

“Setiap orang berpotensi mendukung peningkatan kualitas kehidupan lansia. Lebih dari itu, kita bisa membangun lingkungan yang memastikan lansia mendapatkan hak dan perlindungan hukum sebagai warga negara,” jelas Pimpinan Ashoka untuk Kawasan Asia Tenggara Nani Zulminarni, Senin (31/5).

Kala itu Nani tengah menjadi pembicara dalam seminar daring bertema Lansia dan Demensia: Peran Kita Semua (Lintas Generasi). Seminar itu dihelat Alzheimer Indonesia (ALZI) bekerjasama dengan Ashoka Indonesia untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN).

Tema yang diangkat adalah perlunya keterlibatan lintas generasi dalam keluarga dan masyarakat bagi kesehatan dan kesejahteraan lansia, terutama mereka yang hidup dengan demensia.

Seminar itu diharapkan memantik gerakan yang lebih besar dan luas untuk mendukung lansia dan ODD (oppositional defiant disorder). Badan Pusat Statistik memproyeksikan peningkatan jumlah penduduk lansia akan mencapai 33,7 juta orang pada 2025 atau lebih dari 10% jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan jumlah ODD diestimasikan mencapai 4 juta orang pada 2050.

“Kementerian Sosial memberikan pelayanan agar lansia dapat sejahtera dan bahagia, terutama melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Kita semua dapat memperluas jangkauan, dimulai dengan merawat orang tua, serta melihat mereka sebagai anggota keluarga yang masih bisa terus produktif berkontribusi bagi keluarga,” ujar Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Harry Hikmat.

Selain demensia, lansia di Indonesia juga rentan terhadap masalah lain yang muncul akibat usia yang tak muda lagi.

“Hasil review yang dilakukan Nutricia menunjukkan bahwa lansia di Indonesia juga menghadapi masalah mobilitas, nutrisi dan kesehatan, sejalan dengan pertambahan usia dan perubahan fisiologis. Perubahan ini perlu dibarengi dengan asupan gizi seimbang hingga meningkatkan aktivitas fisik untuk menjaga kualitas hidup, agar tetap sehat,” ungkap ahli gizi Ray W. Basrowi. (OL-8)

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *