Mahasiswa Indonesia di Turki Berbagi Cerita Seputar Puasa

oleh

Animo pelajar Indonesia untuk kuliah di Turki tidak surut oleh merebaknya pandemi yang telah berjalan lebih dari setahun ini. Hal ini disampaikan oleh sejumlah mahasiswa Indonesia yang tetap memilih Turki sebagai tempat belajar dan beraktualisasi diri. “Turki sudah menjadi impian saya sejak lama, dan kini saya telah berada di negeri impian untuk melanjutkan kuliah di jurusan favorit saya,” tegas Egis Putra Habsyi, 18, mahasiswa International Trade and Logistics di Kahramanmaras University.

Baca juga: Pemkot Bogor Siapkan Tiga Skema Pengetatan Pemudik

Egis Bersama tiga orang rekannya akan berbagi cerita pengalaman menarik selama di Turki utamanya saat pertama menjalankan puasa yang jauh lebih lama di negeri EuroAsia yang eksotis. Pada 2 Mei 2021, anak-anak mahasiswa baru yang berangkat melalui Turknesia Edu Foundation mengadakan acara Turknesian Talks. Kali ini publik bisa menyimak perbincangan mereka mengenai asyiknya berpuasa dan bersosialisasi bersama penduduk Turki yang ramah dan bermurah hati pada mahasiswa pendatang.

“Kami kini di Ankara, Ibu Kota Turki bersama teman-teman, terkejut banget begitu ramahnya orang Turki pada kami di mana makanan selama bulan puasa seperti tak pernah henti dikirimkan ke rumah kami, begitu murah hati dan perhatiannya warga Turki dan banyak lembaga peduli yang mengirimkan makanan saat kami iftar,” kata Mayra Najmifajri Safira, 18, mahasiswa International Relations di Ankara Yildirim University, yang menjadi host acara ini. Sebagai pembicara pada obrolan santai di Instagram Live yang ditayangkan pada Minggu (2/5) oukul 16.00-17.00 WIB, adalah Egis Putra Habsyi (KSU – University), Shafanida Mardhani (Social Science Education – Erciyes University) dan Fahri Ziyad MUbarok (Computer Engineering – Ankara Yildirim University).

Tanpa kendala

Keempat mahasiswa anyar lulusan tahun 2020 ini merupakan mahasiswa mandiri yang kini berkuliah di universitas negeri di Turki melalui program penempatan yang diselenggarakan oleh Turknesia Edu Foundation. “Lembaga kami mendorong anak-anak muda berbakat yang nyatanya mampu menembus seleksi universitas negeri terbaik di Turki, di Turki mahasiswa Indonesia yang kami dorong melalui Turknesia terbukti memiliki prestasi yang luar biasa dan mampu bersaing di antara mahasiswa Internasional yang kini kuliah di Turki,” tegas Suzy Taviana, CEO Turknesia.

Turknesia Edu Foundation adalah lembaga non-profit yang bergerak dalam penyiapan pelajar Indonesia untuk kuliah di Turki pada jenjang S1 dan S2 secara mandiri sejak 2017. Keberadaan Turknesia menjadi salah satu pilihan khalayak karena sebagai lembaga Pendidikan pre-universiter Turknesia memberikan jaminan keamanan dalam penempatan pelajar di Turki dengan program yang terencana dan tata kelola terbaik.

Turknesia dengan seleksi cukup ketat mempersiapkan calon mahasiswa sejak dari Indonesia dengan semua kelengkapan berkas, melakukan pembekalan dan pemeriksaan kesehatan (sebelum keberangkatan ke Turki) – melakukan penempatan dan pendampingan kesehatan dan sosialisasi awal selama 1 semester pada masa awal mahasiswa berada di Turki. “Kami bahkan merupakan lembaga satu-satunya di Indonesia yang memberikan pendampingan kesehatan selama 24 jam/7 hari dengan pengawasan dokter agar mahasiswa baru di Turki termonitor kesehatan dan keselamatannya,” tegas Suzy.

Tim kesehatan Turknesia yang terdiri atas dokter dan psikolog mendampingi mahasiswa baru dalam penyesuaian awal mereka di luar negeri dan memberikan pendampingan hidup secara terencana dengan maksud untuk melindungi mahasiswa baru dari gangguan kesehatan baik jasmani maupun psikologis agar prestasi dan kegiatan awal mahasiswa baru dapat terdukung dengan baik.

“Kami menyelenggarakan telemedicine yang efektif dalam mengawal mahasiswa baru di Turki yang kita tahu juga merupakan negeri yang tengah dilanda pandemi. Selama 4 tahun sistem pendampingan kesehatan yang kami kembangkan terbukti dapat mengamankan adik-adik dari berbagai gangguan kesehatan termasuk beberapa di antaranya telah pulih dari paparan covid 19 selama masa awal berada di Turki”, tambah dr. Bhaktipatria Anoraga, ketua Tim Kesehatan Turknesia.

Belajar di Turki, kini bukan lagi hal yang menakutkan bersama Turknesia, karena program penyiapan, pendampingan dan penempatan telah dirancang sedemikian rupa agar calon cendekiawan muda Indonesia dapat sukses melaksanakan Pendidikan di Turki dengan prestasi penuh dan aman dari berbagai gangguan, utamanya dari ancaman kesehatan karena paparan Covid. (RO/OL-12)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *