Kurusan

oleh

BULAN suci Ramadan telah memasuki minggu ketiga. Itu artinya Hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba. Bagi umat Islam, Idul Fitri merupakan momen untuk merayakan kemenangan sekaligus ajang silaturahim atau berkumpul bersama kerabat dan keluarga.

Akan tetapi, suasana silaturahim atau sekadar berkumpul itu kadang kala terganggu dengan hal yang sebenarnya remeh-temeh, terutama ketika kita malah dicecar dengan pertanyaan khas di hari raya oleh para kerabat. Misalnya, ‘kerja di mana’, ‘kapan punya pacar’, ‘kapan punya anak’, ‘kapan punya cucu’, ‘kapan menyusul ke pelaminan’, dan ‘kapan wisuda’.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin bertujuan membangun motivasi kita. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu justru terasa sensitif dan bisa merusak suasana.

Selain pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada pula sapaan yang tak kalah menyebalkan, seperti ‘kok gemukan’, ‘kok gendutan’, dan ‘kok kurusan’. Tidak mengherankan apabila kalimat sapaan tersebut menjelma menjadi sesuatu yang lumrah. Mengapa kalimat-kalimat yang mengomentari fi sik seakanakan menggantikan kalimat sapaan ‘apa kabar’. Entah mereka memang benar-benar memperhatikan perubahan bentuk tubuh kita atau basabasi semata.

Pada tulisan ini saya tidak akan mengomentari lebih jauh mengenai fenomena yang muncul di setiap hari raya itu atau tentang bagaimana cara menghadapinya. Akan tetapi, dari contoh kalimat-kalimat tersebut ada beberapa kata yang membuat saya tertarik, yakni kata gemukan, gendutan, dan kurusan yang sama-sama memiliki akhiran (sufiks) -an.

Ketika saya mengecek kata kurusan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kurusan memiliki makna agak lebih kurus daripada sebelumnya. Akan tetapi, ketika saya mengecek antonim kurusan, yakni gendutan atau gemukan, ternyata dua kata tersebut tidak tertera di dalam KBBI. Mengapa kata gemukan dan gendutan belum masuk KBBI? Padahal, jika diselisik dalam kacamata bahasa, gemukan atau gendutan memiliki konstruksi kata yang sama dengan kurusan.

Kemudian, hal menarik lainnya yang saya temukan ialah di dalam kata kurusan (adjektiva) ada sufiks pembentuk adjektiva ‘sesuatu yang mempunyai sifat’ yang berasal dari kata dasar kurus. Sementara itu, ketika menelusuri kata manisan (segala sesuatu yang rasanya manis; gula-gula, buah-buahan yang direndam dalam air gula; halwa) dan kata asinan (sayuran atau buah-buahan yang diawetkan dalam cuka yang diberi garam, gula, dan rempah-rempah), ternyata keduanya memiliki kelas kata nomina. Padahal, di dalam KBBI, kata manisan dan asinan tertera sebagai sufiks pembentuk adjektiva ‘sesuatu yang mempunyai sifat’, sama halnya dengan kurusan.

Pada gejala tersebut terlihat bahwa KBBI tidak tepat dalam memberikan contoh sufiks pembentuk adjektiva. Hal tersebut justru bisa membingungkan dan menyesatkan para pencari kata. Padahal, peran kamus tidak sebatas sebagai media untuk mencari kata. Kamus juga berkaitan erat dengan kebiasaan merujuk sesuatu kepada sumber yang jelas dan tepat. Bagaimana bisa menggunakan bahasa dengan tepat jika rujukannya pun tidak tepat. Oleh karena itu, para leksikograf seharusnya bisa lebih cermat dalam memberikan contoh yang tepat di dalam kamus.

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *