Kisah VW Kombi Parkir karena Pandemi

oleh

TEMPAT duduk kayu tertata apik di bawah rindangnya pohon membuat pengunjung Kedai Kopi Kito Rato di Jalan Masjid, Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, bisa menyesap kopi sambil menikmati semilir angin. Volkswagen (VW) Kombi merah yang menjadi lokasi Rahmad Susanto, 29, meracik es kopi susu inspirasi, minuman ikonik Kito Rato, menjadi spot berfoto yang keren.

Namun, kisah di balik VW dan kesibukan Rahmad yang mesti berjibaku saat menggunakan gelas ukur dan mesin pres kopi dengan hanya sebelah tangan yang bisa digunakan juga tak kalah istimewa. Agusnadi, sang pendiri Community Hub Kita Setara yang dijumpai Jumat (28/5), berkisah, ia mendirikan komunitas yang didedikasikan sebagai inkubasi bisnis para penyandang disabilitas itu pada 17 Agustus 2019.

Tantangan mengemuka karena niat Agusnadi yang berlatar profesional di bidang pertanggungjawaban sosial korporasi itu mesti berhadapan dengan komitmen para mitra pendiri yang kemudian berguguran satu per satu. Kendati begitu, Agusnadi tetap berkeras mengelola Community Hub Kita Setara yang kemudian melahirkan Kito Rato. Ia konsisten pada misi awal, menjadi wirausaha sosial yang memberdayakan dan mendorong kemandirian warga disabilitas.

“Supaya program ini terjaga keberlanjutannya, kami mendorong mereka juga menjadi pemilik bisnisnya sehingga tercipta sistem mencicil. Mereka menyisihkan dana dari omzet yang mereka raih hingga akhirnya nanti mereka bisa mandiri. Selanjutnya kami ingin menjaring peserta baru dan begitu seterusnya, harus bergulir,” kata Agusnadi.

 

 

Mendamba kemitraan yang berkelanjutan

Kemitraan dengan perusahaan dan institusi pemerintah pun dibangun, tetapi sebagian besar masih berupa kegiatan filantropi jangka pendek. “Padahal kemitraan jangka panjang itu mungkin cukup dengan membeli kopi literan Kito Rato secara teratur setiap bulannya mungkin.”

Selain dengan para tunadaksa, yang kondisi fisiknya memiliki keterbatasan, Community Hub Kita Setara kini merintis usaha jahitan yang dioperasikan para tunarungu. Pun, menjalin relasi dengan dengan komunitas tunanetra yang satu di antaranya telah turut berjualan dimsum di Kedai Kito Rato Ciater, Serpong.

Komunitas itu, walaupun belum seluruhnya terlibat langsung dalam bisnis, juga memudahkan Community Hub Kita Setara ketika menjembatani pihak-pihak yang ingin memberikan bantuan yang sifatnya langsung agar tepat sasaran.

Hantaman pandemi memaksa food truck Kito Rato yang semula hilir mudik di berbagai acara kini parkir. Para penyandang disabilitas, yang terkendala fisik, yang kemudian juga mesti berjuang ekstra untuk meraih kesetaraan dalam aspek pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik, menjadi golongan masyarakat yang paling rentan dalam situasi bencana, termasuk pandemi covid-19.

“Mereka, para penyandang disabilitas ini, memang punya kekurangan fisik. Namun, di balik keterbatasan itu, ada kelebihan lain yang mereka punya. Saya sudah membuktikannya selama bertahun-tahun berinteraksi dengan mereka. Melihat mereka yang berbeda juga akan menghadirkan banyak pembelajaran pada kita.” (WAN/X-6)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *