Ketua DPR: Menara Gading Pendidikan Tinggi Harus Ditinggalkan

oleh

KONDISI menara gading dunia pendidikan Indonesia sudah tidak dapat lagi dipertahankan. Ini karena hal tersebut membuat para peserta didik tidak adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Menara gading adalah kondisi pendidikan menjadi tempat seseorang belajar sambil terpisahkan dirinya dari masyarakat. Setelah selesai, kembali ke masyarakat tanpa memahami cepatnya perubahan yang terjadi di luar kampus,” ujar Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani saat menyampaikan keynote speech pada webinar series Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia (UI) Seri ke-3 dengan tema Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan Bangsa dan Kemanusiaan.

Kampus kemudian hanya menjadi pabrik gelar-gelar akademis dan menjadikan peserta didiknya minim kemampuan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, salah satu gelombang perubahan zaman yang harus dihadapi generasi bangsa sekarang yakni perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat.

Perkembangan robotik, kecerdasan buatan, blockchain, crypto currency, dan algoritma kesadaran merupakan beberapa hal yang harus dipelajari generasi masa kini untuk menambah kemampuan masa depan mereka. Untuk itulah pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi menjadi keharusan.

Tantangan penguasaan atas teknologi informasi dan komunikasi yang dihadapi oleh generasi masa depan ini juga disepakati oleh Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro. “Kegagalan untuk menguasai teknologi menyebabkan bangsa kita menjadi rentan terhadap arus serbuan berita palsu atau hoaks. Selain itu, kegagapan teknologi juga berkorelasi terhadap lahirnya kemiskinan di bidang literasi informasi. Di sinilah, pendidikan jelas memikul tanggung jawab utama,” ujarnya dalam sambutan.

Untuk mengembangkan pendidikan yang adaptif terhadap teknologi tentu membutuhkan komitmen dan investasi dari semua pihak, termasuk dari DPR sebagai institusi legislatif pemegang fungsi pengawasan alokasi anggaran negara. Menurutnya, alokasi anggaran dana pendidikan negara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam kurun waktu 2010-2020. Bahkan, sejak 2009 alokasi anggaran pendidikan telah memenuhi batas minimal 20% sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Ia berharap bahwa alokasi anggaran yang begitu besar dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh pemerintah untuk pendidikan yang adil dan merata.

Dengan tema Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan Bangsa dan Kemanusiaan, seminar ini berusaha menjawab isu-isu krusial dunia pendidikan. “Seri ke-3 webinar MWA kali ini fokus terhadap pendidikan. Isu yang diangkat tidak hanya pada hal pembentukan kecerdasan, tetapi juga tentang hal yang perlu dilakukan agar institusi pendidikan dapat berbagi tugas mendidik manusia Indonesia dengan para pemangku kepentingan lainnya, seperti industri, komunitas, ormas, dan lembaga pemerintah atau swasta,” ujar Ketua MWA UI Saleh Husin.

Selain mengundang Puan Maharani, pada sesi kedua di Seri 3 webinar juga hadir narasumber lain yakni Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek Nadiem Makarim, anggota Majelis Wali Amanat UI dan CEO Blue Bird Noni Purnomo, Randy Jusuf (Managing Director Google Indonesi), dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UI Abdul Haris. Sesi kedua pada bagian keynote speech dipandu oleh moderator Corina DS Riantoputra dan pemaparan panelis dipandu Don Bosco Selamun, Direktur Utama Metro TV. (RO/OL-14)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *