Kemenpora akui kelemahan sepak bola di pembinaan usia dini

oleh

Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, jangan lupa mereka itu didikan PPLP, mereka produk sana, dulu PPLP Ragunan

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pemuda dan Olahraga mengakui bahwa pembinaan usia dini menjadi kelemahan persepakbolaan Indonesia yang berpengaruh juga terhadap perkembangan, prestasi, hingga regenerasi sepak bola.

“Di FIFA itu kan diatur sepak bola jangan hanya fokus pada kompetisi, tetapi juga fokus pembinaan usia dini. Ini yang masih lemah,” kata Sekretaris Kemenpora Gatot saat diskusi virtual bertajuk “Integrasi Klub Sepak Bola dan City Branding”, Kamis.

Padahal, kata Gatot, ada ribuan sekolah sepak bola (SSB) yang tersebar di seluruh nusantara, tetapi sayangnya mereka seakan-akan lepas dari induknya, yakni PSSI.

Baca juga: Sesmenpora tak kaget banyak selebritas akuisisi klub sepak bola

Menurut dia, pemerintah pusat juga memiliki Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) sebagai langkah sinergi dengan pemerintah provinsi yang telah melahirkan bintang-bintang sepak bola.

“Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, jangan lupa mereka itu didikan PPLP, mereka produk sana, dulu PPLP Ragunan. Makanya, usia dini itu harus dibina dengan baik,” katanya.

Mengingat PSSI saat ini tengah fokus dengan kompetisi, terutama mengurusi Tim Nasional Indonesia, Gatot mengatakan Kemenpora yang akan membantu upaya pembinaan usia dini.

“Kami masuk ke layer itu. Dengan inpres (Inpres Nomor 3/2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional),” ujarnya.

Namun, Gatot juga berharap PSSI mengatur dalam statutanya bahwa setiap klub harus memiliki akademi untuk pembinaan usia dini dan menjamin regenerasi pemain.

Baca juga: Indonesia tertinggal dari Malaysia soal pembinaan berjenjang

Selain soal pembinaan usia dini, diakuinya bahwa kelemahan persepakbolaan di Indonesia adalah pada sarana prasarana yang dimiliki, misalnya tidak ada klub yang memiliki stadion sendiri.

“Kalau kita lihat beberapa klub yang terkenal di Eropa, misalnya, mereka itu owner stadion. Namun, kami tidak mendorong kewajiban setiap klub punya stadion. Biarkan mereka berjalan menggunakan yang ada,” kata Gatot.

Sementara itu, Chief Marketing and Commmercial Officer Persija Jaya Azwan Karim mengakui dukungan pemerintah terhadap perkembangan sepak bola Tanah Air sekarang ini sangat besar.

Salah satunya, kata dia, dibuktikan dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 3/2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional.

Azwan juga mengakui bahwa pembinaan usia dini penting sehingga Persija telah menyiapkan akademi di Depok, Jawa Barat, sebagai sarana untuk mencetak calon bintang-bintang sepak bola.

Baca juga: Pelatihan sepak bola berbasis web layak dikembangkan

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *