Kawasan Industri di Maluku Utara Bisa Gaet Investasi Rp328 Triliun

oleh

MENTERI Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, dua kawasan industri di Maluku Utara (Malut) bisa mendatangkan investasi hingga US$23 miliar atau sekitar Rp328 triliun.

Dua kawasan yang dimaksud ialah Kawasan Industri Teluk Weda dan Kawasan Industri Pulau Obi yang masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Hal ini disampaikan Luhut saat memimpin Rapat Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Percepatan Pembangunan Infrastruktur di Maluku Utara pada Rabu (2/6) secara virtual dengan kementerian terkait.

“Kedua kawasan ini mengolah dan memproduksi besi, nikel, dan prekursor baterai listrik dan diperkirakan nantinya nilai investasinya bisa sampai US$23 miliar,” ujar Luhut dalam keterangannya, Kamis (3/6).

Kawasan Industri Teluk Weda dibangun di lahan seluas 8.000 hektare dan pada 2022 nanti akan melibatkan 19.300 orang sebagai upaya program padat karya pemerintah. Di sisi lain, Kawasan Industri Pulau Obi yang memiliki luas 12.000 hektare, disebutkan saat ini sudah menggunakan 9.800 tenaga pekerja.

Namun, pemerintah menyatakan masih ada permasalahan di Malut seperti infrastruktur pelayanan dasar yang dianggap belum memadai dan merata. Mulai dari akses internet, ketersediaan jalan sebagai infrastruktur penunjang konektivitas, hingga daya ungkit transportasi antarwilayah.

Oleh karenannya, pemerintah mendorong pengembangan Kota Baru Sofifi yang termasuk major project amanat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Ibu kota Sofifi sebagai pusat kegiatan skala provinsi seharusnya berfungsi sebagai kawasan perkantoran, baik pemerintahan maupun non pemerintahan, kawasan komersil skala kota, dan kota jasa.

“Pembangunan infrastruktur perumahan dan infrastruktur dasar juga diperlukan supaya Ibu kota Sofifi tidak bergantung ke wilayah lain, seperti ke Halmahera,” ujar Luhut.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil menambahkan bahwa ada inisiatif besar dari pihak swasta untuk berinvestasi di kedua kawasan industri di Malut, sehingga perlu didukung pengimplementasiannya supaya dapat beroperasi secara signifikan.

Menutup rapat, Luhut memberikan arahan agar nantinya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang merencanakan dan melakukan pembangunan baru supaya dilakukan secara terencana, terkontrol, dan efisien.

Beberapa usulan pembangunan infrastruktur konektivitas pun menjadi fokus pembahasan rapat tersebut. Hal ini mencakup pembangunan Jalan Lintas Maluku Utara di Pulau Obi, Jalan Lintas Maluku di Kepulauan Sula dan Pulau Taliabu, pembangunan jembatan Temadore (Ternate, Maitara, dan Tidore), tujuh pelabuhan angkutan penyeberangan baru (Wasile Utara, Gane Barat Selatan, Jikotamo, Wayaloar, Sulabesi Timur, Mangoli Barat, dan Taliabu Timur Selatan), serta lima bandar udara baru (Loleo, Gane Barat Selatan, Obi, Mangoli, Taliabu). (OL-8)

 


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *