Hari Lingkungan Hidup, Restorasi Ekosistem Jadi Isu Penting

oleh

HARI Lingkungan Hidup Sedunia jatuh pada tanggal 5 Juni setiap tahunnya. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menekankan pentingnya restorasi ekosistem dalam mempertahankan biodiversitas hutan serta menangani krisis perubahan iklim.

“Restorasi ekosistem dimaksudkan untuk mengembalikan suatu eksositem hutan terdegradasi setelah dikelola dengan sistem tebang pilih dan tanam kepada kondisi yang semaksimal mungkin mendekati keadaan semula dalam hal komposisi dan kondisi biodiversitas,” kata Siti dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (5/6).

Menurutnya, hal tersebut juga sejalan dengan tema hari lingkungan hidup sedunia tahun ini, yakni ecosystem restoration.

Di Indonesia, kata Siti, restorasi ekosistem dilakukan oleh pemerintah sejak 2015 lalu hingga saat ini, berupa pemulihan lahan dengan total area kurang lebih 4,69 juta hektare lahan, termasuk gambut dan mangrove dengan tujuan untuk peningkatan produktivitas eksosistem hutan dan lahan yang terdegradasi.

Restorasi eksosistem juga dilakukan melalui bentuk izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem, salah satu bentuk pengelolaan hutan alam bekas tebangan atau logged over area.

“Hal tersebut merupakan suatu perubahan paradigma pengelolaan hutan dari pengelolaan berorientasi penghasil kayu kepada pengelolaan hutan berbasis ekosistem. Saat ini tercatat sejumlah 16 unit manajemen restorasi ekosisitem di hutan produksi dengan luas 622.861 hektar,” bebernya.

Selain itu, Siti melanjutkan, pemerintah mendorong kegiatan kehutanan oleh masyarakat dan termasuk dunia usaha yang tidak lagi bersifat bisnis secara tunggal komoditas, seperti kayu misalnya, namun sudah harus berupa multiusaha dan didorong untuk berkontribusi lebih besar dan lebih luas berupa penguatan dan dukungan dalam mitigasi perubahan iklim, yakni penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

Ia meyaknini, keberhasilan pengelolan secara integrasi ini akan sangat membantu dan dibutuhkan dalam upaya memenuhi kewajiban negara-negara anggota di dunia untuk turut menurunkan emisi GRK sehingga suhu bumi tidak boleh naik lebih dari 2 derajat celcius dan sedapat-dapatnya ditahan sehingga tidak naik lebih dari 1,5 derajat celcius.

“Indonesia Cukup optimisTIS dapat menyesuaikan diri, berketahana iklim dengan kebutuhan masyarakat kita, dengan upaya kerja keras luar biasa serta upaya-upaya keikutsertaan swasta,” ungkapnya.

Kemampuan dan optimisme Indonesia, kata Siti, sudah dibuktikan dengan keberhasilan capaian, seperti rendahnya tingkat deforetasi tahun 2020 yaitu 115 ribu hektar/ tahun diandingkan dengan dua tiga tahun sebelumnya yakni 400 ribu hektar pertahun hingga 2-3 juta pertahun.

Selain itu, ia juga optimistis sektor kehutanan akan mampu mencapai netral karbon di 2030. Adapun, pada prospek lingkungan di sektor sampah, kata Siti, juga sedang terus diupayakan penanganannya dengan sistem sampah menjadi sumber daya dengan daur ulang serta ekonomi sirkular.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, Siti juga menekankan pentingnya kesadaran dan kepedulian bersama dari seluruh masyarakat. Ia meyakini, kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi yang masif serta sistematis harus dijalankan semua pihak untuk menciptakan lingkungan lestari.

“Lingungan yang sehat membutuhkan dukungan dan keterlibatan para pemangku kepentingan, khususnya di tingkat lokal sehingga masyrakat berdaya dalam mengatur dan mengelola lahan tempat mereka dengan lebih baik. Pemberdayaan masyarakat berkontribusi memajukan solusi lokal dan mendorong partisipasi aktif dalam restorasi ekosistem,” pungkas Siti. (H-2)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *