Dua Pertandingan Terakhir yang Menentukan

oleh

PERTARUNGAN menuju puncak La Liga berlangsung sengit. Dua tim bertetangga Atletico Madrid dan Real Madrid bersaing ketat menuju tangga juara. Barcelona yang semula juga berpeluang kembali menjadi yang terbaik di Liga Spanyol, tersandung setelah Kamis (13/5) dipaksa bermain imbang 3-3 oleh tuan rumah Levante.

      

Dua pertandingan tersisa dimainkan pada waktu yang bersamaan agar tidak ada yang bermain mata. Minggu malam besok menjadi salah satu penentuan bagi Atletico Madrid untuk bisa menembus persaingan abadi antara dua raksasa Real Madrid dan Barcelona atau tidak.

       

Apabila besok malam Atletico mampu mengatasi Osasuna, sementara Real Madrid gagal mengatasi tuan rumah Athletic Bilbao, maka anak asuh Diego Simeone akan berpesta besar. Namun apabila Real Madrid mampu melewati rintangan akhir terberatnya, maka penentuan juara akan terjadi pekan depan.

        

“Kami masih ada di dalam (jalur juara),” ujar Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane usai mengempaskan Granada 4-1. “Masih ada dua pertandingan tersisa, kami harus memenangi seperti kami memenangi Kamis ini.”

      

“Kami mencoba untuk menekan Atletico, semoga saja mereka tidak bisa memenangi kedua pertandingan terakhirnya,” tambah Kiper Real Madrid Thibaut Courtois. “Persaingan kami begitu ketat dan tidak boleh ada sedikit pun kesalahan yang boleh dilakukan.”

        

Atletico terakhir mengangkat piala kompetisi La Liga pada musim 2013/2014. Seperti perjuangan mereka tujuh tahun lalu, tidak mudah bagi Atletico untuk menembus hegemoni Barcelona dan Real Madrid.

      

“Kalau mereka tidak menderita, itu bukan Atletico,” seloroh surat kabar “Marca”.

 

 

 

Tipikal petarung 

       

Karakter sebuah tim ditentukan oleh karakter pelatihnya. Atletico beruntung mempunyai pelatih Simeone. Ketika ia masih aktif sebagai pemain, Simeone dikenal sebagai petarung.

         

Simeone dikenal sebagai gelandang yang tidak pernah mengenal lelah. Ia selalu menjelajah sepanjang lapangan dan mengganggu permainan lawan. Pemain nasional Argentina ini bukan hanya bandel, tetapi juga licik.

         

Bintang Inggris David Beckham tidak pernah akan melupakan kenakalan Siomeone. Di ajang Piala Dunia 1998, Beckham yang iseng menekukkan kaki setelah jatuh tersungkur, justru harus diganjar kartu merah oleh wasit.

         

Pasalnya, Simeone yang melakukan pelanggaran kepada Beckham, berpura-pura tertendang dan jatuh kesakitan. Wasit yang tidak melihat jelas kejadian menganggap ada pelanggaran dan bintang tim nasional Inggris itu harus diusir dari lapangan.

         

Akibat keluarnya Beckham kekuatan Inggris menjadi berkurang dan akhirnya kalah adu penalti. Beckham dianggap sebagai musuh oleh pecinta sepak bola Inggris karena kegagalan di 16 Besar Piala Dunia 1998 itu. Judul utama surat kabar Inggris ketika itu sampai menuliskan: “Sepuluh Pahlawan, Satu Pecundang.”

         

Setelah pensiun dan menjadi pelatih, karakter itulah yang ditanamkan Simeone kepada para pemain Atletico. Tim asuhannya disuntik menjadi pribadi yang berani bertarung, tidak takut kalah, dan bandel.

         

Pekan lalu ketika mereka harus bertandang ke Camp Nou, Atletico tidak gentar untuk menghadapi tuan rumah Barcelona. Padahal itu merupakan salah satu pertandingan kunci yang menentukan langkah mereka ke tangga juara.

       

Koke dan kawan-kawan melayani permainan Barca. Tekanan bertubi-tubi yang dilancarkan Lionel Messi tidak menggoyahkan pertahanan Atletico. Kiper Jan Oblak tetap kukuh untuk mengamankan gawangnya dari kebobolan.

         

Meski juga Luis Suarez gagal mencuri gol kemenangan untuk Atletico, tetapi hasil Imbang 0-0 di Nou Camp menjadi salah satu kunci sukses bagi klub berkostum strip Merah-Putih itu tetap bercokol di puncak klasemen. Mereka unggul dua poin dari Real Madrid yang menempel di belakang mereka.

       

Atletico berada dalam posisi yang baik untuk mengukuhkan diri sebagai juara. Lawan terberat mereka tinggal Osasuna besok malam nanti. Kalau pun harus memainkan pertandingan terakhir, lawan yang mereka harus hadapi pekan selanjutnya hanyalah klub papan bawah yang terancam degradasi, Real Valladolid.

 

 

 

Pemain muda 

       

Justru Real Madrid yang besok malam harus bekerja lebih keras. Pasalnya mereka harus bertandang ke Stadion Saint Mammes yang merupakan stadion kebanggaan Athletic Bilbao.

         

Pertandingan ini sarat emosi karena Bilbao berada di wilayah Basque, yang sejak lama berupaya lepas dari bayang-bayang Madrid. Athletic meski berada di papan tengah merupakan tim yang tidak mudah dijinakkan. Tim asuhan Marcelino merupakan petarung sejati.

         

Zidane justru sedang dihadapkan untuk melupakan para pemain bintangnya. Pelatih asal Prancis ini tidak mungkin terus bertumpu kepada nama-nama besar karena permainannya terlalu monoton dan sudah dibaca lawan.

         

Kegagalan di ajang Liga Champions merupakan akibat terlalu monotonnya para pemain andalannya selama ini. Sergio Ramos, Toni Kroos, Eden Hazard tidak mungkin berkembang lagi permainannya. Pekan lalu saat bertemu Sevilla, masih beruntung Zizou melihat anak-anak asuhannya mampu memaksa lawan bermain Imbang 2-2.

         

Kamis lalu, Zizou berani untuk keluar dari permainan yang itu-itu saja. Ia menurunkan pemain muda untuk menyelamatkan harapan terakhir Real Madrid meraih gelar di musim kompetisi sekarang ini.

       

Tidak tanggung-tanggung dua pemain muda berusia 20 tahun dari Brasil tampil sebagai starter. Vinicius Junior dan Rodrygo mendampingi pemain kawakan Karim Benzema bermain sebagai penyerang sayap. Rodrigo bahkan mampu menyumbangkan satu gol kemenangan sesaat sebelum jeda.

         

“Mereka bukan hanya menunjukkan kualitas permainannya, tetapi keinginan untuk melakukan yang terbaik dan mengangkat permainan tim,” puji Zizou.

         

Besok malam Zizou bukan mustahil untuk kembali mempercayai para pemain muda untuk tampil. Di belakang ia punya bek sayap seperti Miguel Gutierrez dan Marvin Park yang usianya 20 tahun ke bawah. Kualitas mereka tidak kalah dari pemain kawakan Marcelo dan Dani Carvajal yang sudah lamban.

       

Dengan pemain muda, Real Madrid tampil penuh semangat. Mereka pun mampu mendorong pemain kawakan seperti Luka Modric dan Casemiro untuk lebih kreatif menunjukkan kemampuan terbaiknya.

         

Kejutan seperti itulah yang dibutuhkan untuk menghadapi tim pantang menyerah seperti Athletic Bilbao. Memang para pemain kawakan tuan rumah bisa mengintimidasi para pemain muda. Kehadiran pemain kawakan dibutuhkan untuk menyuntikkan kepercayaan diri agar tidak mudah terteror pemain lawan.

           

Seperti dikatakan Zizou, Real Madrid tidak punya pilihan lain kecuali menang. Itu pun dengan harapan Atletico sempat tersandung. Kalau tidak nasib Zizou lah yang akan ada di ujung tanduk karena nirgelar di musim sekarang ini.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *