Begini Status Dana Setoran Haji Menurut Fatwa MUI

oleh

TABLOIDBINTANG.COM – Pada  2020 lalu Kementerian agama resmi membatalkan keberangkatan jamaah haji karena pertimbangan menjaga keselamatan jiwa dan satu sisi Arab Saudi hanya menyediakan kuota dalam negeri. Pada 2021 ini Pemerintah juga memutuskan pembatalan keberangkatan haji. Lalu bagaimana status status kepemilikan dana haji yang disetorkan calon jamaah haji menurut tinjauan syariah?

Berdasarkan Himpunan Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV Tahun 2012, seluruh jamaah haji yang telah melunasi biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) dapat menggunakan untuk ibadah haji tahun depan, atau menarik kembali uang sesuai ketentuan yang berlaku. Ketetapan ini sesuai dengan isi ijtima ulama komisi fatwa:

1. Dana setoran haji yang ditampung dalam rekening Menteri Agama yang pendaftarnya termasuk daftar tunggu (waiting list) secara syar’i adalah milik pendaftar (calon haji). Apabila yang bersangkutan meninggal atau ada halangan syar’i yang membuat calon haji gagal berangkat, dana setoran haji wajib dikembalikan kepada calon haji atau ahli warisnya.

2. Dana setoran BPIH bagi calon haji yang termasuk daftar tunggu dalam rekening Menteri Agama, boleh di-tasharruf-kan untuk hal-hal produktif (memberikan keuntungan), antara lain penempatan di perbankan syariah atau diinvestasikan dalam bentuk sukuk.

3. Hasil penempatan/investasi merupakan milik calon haji yang termasuk dalam daftar tunggu (antara lain sebagai penambah dana simpanan calon haji atau pengurang biaya haji yang riil/nyata), sebagai pengelola, pemerintah (Kementerian Agama) berhak mendapatkan imbalan yang wajar/tidak berlebihan.

4. Dana BPIH milik calon haji yang masuk daftar tunggu, tidak boleh digunakan untuk keperluan apapun kecuali untuk membiayai keperluan yang bersangkutan.

Ketetapan ini berlandaskan dari dalil Alquran dan hadits yang mengatur tentang hubungan antarmanusia:

Dalil Alquran

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Mahapenyayang kepadamu. (QS An Nisa: 29)

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Mahamendengar, Mahamelihat.” (QS An nisa: 58)

Dalil Hadits

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tunaikanlah amanah dari orang yang telah memberikanmu kepercayaan, dan janganlah engkau membalas orang yang telah mengkhianatimu.” (Hadits sahih riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, al-Hakim, al-Bukhari dalam Tarikhnya. Lihat Shahiihul Jaami’ no 240)

Sumber: mui.or.id.

Penulis Redaksi

Editor Suyanto Soemohardjo

KOMENTAR

Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi tabloidbintang.com. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *